KORANJURI.com - Penulis Lontar Sudah Langka, Tapi Masih Ada KORANJURI.com - Penulis Lontar Sudah Langka, Tapi Masih Ada

HOME | Mimbar | Delik | Rekam Kejadian | Pendidikan | Ekbis | Hiburan | Distrik Wisata | Seni Budaya | Akselerasi | Mail Contact



1 2 3 4









Penulis Lontar Sudah Langka, Tapi Masih Ada


19 Juni 2012 | Koranjuri.com

Lontar
KORANJURI.COM - Tidak banyak orang yang masih mau menulis sastra diatas lembaran daun lontar. Namun Dewa Made Darmawan tetap bertahan menerapkan cara lama itu di era maju seperti sekarang . Meski secara teknis, caranya menulis lontar sudah diperbarui dengan menggunakan laser pen.

Ditemui di gedung pahat Art Centre Denpasar, Dewa mengatakan, banyak filosofi yang terkandung dalam sebuah sastra lontar. Terutama, ketika mengguratkan pisau tulis yang disebut pangrupak dengan teliti dan hati-hati.

Disamping sastra yang ada dalam lontar sendiri merupakan maha karya yang sifatnya universal. Sementara, untuk menulisnya sendiri ada patokan-patokan yang sarat makna, ungkap pria yang tinggal di jalan Pendidikan I, Perum Graha Kerti, Sidakarya, Denpasar ini.

Sulitnya mendapatkan bahan baku daun lontar, Dewa Made Darmawan sampai menanam sendiri dan memanen setahun sekali. Dari 100 pohon itu ia mendapatkan 5 pelepah yang dianggap bagus. Sedangkan dari satu pelepah yang didapat cuma 5-8 lembar daun.

Untuk memproses lembaran daun lontar sampai bisa digurat membutuhkan waktu setidaknya 8 bulan. Proses lama itu dilakukan mulai dari pemilihan daun sampai daun siap untuk ditulis. Dewa mengatakan, daun lontar yang bagus harus memenuhi standar, berada di pucuk pohon, tidak rusak dan posisi rebahnya harus 45 derajat.

Saya percaya, banyak orang yang masih memegang lontar kuno, tapi jadi rusak karena tidak tahu cara merawatnya, kata Dewa.

Profesinya sekarang, justru cukup membantu masyarakat yang punya serat lontar kuno namun tidak dapat merawatnya dengan baik. Ia bersedia merawat dan memperlakukan lontar kuno itu dengan cara yang benar.

Disamping itu, dengan teknik laser pen, ia juga menduplikasi serat kuno yang rusak atau terpotong karena dimakan usia. Sejak setahun lalu, Dewa Made Darmawan sudah mencetak sekitar 3.000 judul lontar yang terdiri dari banyak sastra kuno maupun lontar pengobatan.

way