KORANJURI.com - Masih Ada 3 Tahap Untuk Anjing Kintamani Diakui Dunia KORANJURI.com - Masih Ada 3 Tahap Untuk Anjing Kintamani Diakui Dunia

HOME | Mimbar | Delik | Rekam Kejadian | Pendidikan | Ekbis | Hiburan | Distrik Wisata | Seni Budaya | Akselerasi | Mail Contact



1 2 3 4









Masih Ada 3 Tahap Untuk Anjing Kintamani Diakui Dunia


24 Juni 2012 | Koranjuri.com

Kintamani
KORANJURI.COM - Di tingkat asia, Anjing Kintamani secara resmi sudah diakui dan masuk dalam grup 5. Itu berarti, dalam lomba tingkat asia anjing ras asli Indonesia tersebut dapat bersanding dengan anjing trah lain seperti Siberian Husky.

Namun, menurut ketua perkumpulan Kinologi Indonesia (Perkin) pusat, Suntono, upaya tersebut tidak berhenti sampai disitu saja. masih ada 3 tahapan lagi untuk mendapatkan pengakuan secara internasional.

Itu bukan tugas mudah. Ada 8 tingkatan dan sekarang sudah masuk yang ke-5. Ini masih butuh waktu panjang, jelas Suntono dalam even Care Dog and Man Show 2012 di GWK, Minggu (24/06/12).

Suntono berharap,masyarakat Bali pada khususnya juga turut terpanggil untuk memelihara anjing ras asal desa Sukawana, Kintamani, tersebut. Setidaknya cukup dengan memeliharanya di rumah. Dengan populasinya yang semakin bertambah, proses untuk diakui secara internasional akan semakin terbuka.

Saat ini,  yang diakui di tingkat asia adalah trah Kintamani warna putih. Sementara, warna lain seperti hitam, coklat muda dan tua, serta coklat dengan garis kehitaman, populasinya masih jauh dari persyaratan.

Di Indonesia ada sekitar 1.000 anjing Kintamani warna putih. Warna yang lain terbilang masih sedikit, karena itu butuh upaya bersama agar semua warna anjing ras Kintamani diakui bukan secara nasional saja, tapi juga di tingkat lebih tinggi, harap Suntono.

Terutama di Bali, Suntono berharap masyarakatnya lebih giat lagi memilih anjing berbulu gombrong itu sebagai hewan peliharaan. Ia merasa prihatin, di luar Bali kepiawaian anjing Kintamani dengan mudah dapat ditemukan dan dilihat. Selain itu, even besar berskala internasional juga kerap digelar yang tak lepas dari keikutsertaan anjing Kintamani.

Di Bali masih jarang ada even. Di Jakarta atau Surabaya, kita bisa melihat anjing Kintamani membukakan kulkas atau bersih-bersih sampah dalam suatu even. Saya berharap, Bali sebagai tempatnya asal anjing Kintamani juga tidak mau kalah dengan daerah lain, ungkapnya.

Sementara, Edy Komang, ketua panitia Care Dog and Man Show 2012, mengatakan, even yang diselenggarakan kali ini untuk menggali dana penyelamatan anjing-anjing liar.

Kita bekerjasama dengan Yayasan Puri Surya Majapahit. Misi kita merawat anjing yang ditemukan tidak bertuan untuk kita pelihara. Nantinya anjing itu akan kita diadopsikan. Selama ini. Kami mengajak kepada penyayang anjing untuk turut ambil bagian, kata Edy Komang.

Dalam even yang digelar di GWK, anjing Kintamani bernama Sumi milik Iin, wanita asal Solo, berhasil memukau penonton. Sumi yang berumur 2 tahun, memperagakan berbagai atraksi mulai dari kepatuhan dan kelincahannya.

Iin, kepada Koranjuri.com mengatakan, anjing kesayangannya itu memang dipercayakan kepada pelatihnya di Bali.

Pengennya sih, dibawa pulang. Tapi karena sudah ada kesepakatan dengan pelatih, sebelum ada pengganti biar Sumi tetap berada di Bali, biar Bali juga punya kebanggaan akan anjing Kintamani yang terlatih, ujar Iin yang memiliki 27 ekor anjing Kintamani di rumahnya di kawasan Margorejo, Solo.



way